Minggu, 09 April 2017

Evidence Based Practice dalam Fisioterapi

Kita selalu ingin melakukan yang terbaik untuk pasien, keluarga dan masyarakat. Namun, bagaimana caranya kita mengetahui bahwa fisioterapi benar-benar memberikan  perubahan. Tracy Bury memberikan gambaran tentang praktek berbasis bukti (Evidence Based Practice).

Apa itu evidence based practice (EBP)?

Pendahuluan

EBP bukan merupakan konsep baru, tapi menjadi lebih populer di berbagai negara belakangan ini. Tujuan EBP adalah:


  • meningkatkan pelayanan terhadap pasien, keluarga, dan masyarakat.
  • mengurangi keanekaragaman dalam praktek
  • mengunakan bukti ilmiah dari penelitian berkualitas untuk mendasari tindakan, menyeimbangkan manfaat dan resiko dari suatu tindakan.
  • menentang pemikiran yang berdasarkan keyakinan semata bukan berdasarkan bukti
  • membuat pengambilan keputusan lebih transparan
  • mengikutsertakan pandangan pasien dalam pembuatan keputusan
  • memastikan  pengeetahuan senantiasa mendasari praktek melalui aktivitas belajar seumur hidup

Terdapat beberapa miskonsepsi terhadap keberadaan EBP, contohnya:


  • EBP tidak menghargai pengalaman klinik
  • EBP hanya mengakui penelitian randomised controlled trials (RCT) sebagai sumber bukti
  • EBP memberikan suatu pendekatan rumus terhadap praktek
  • EBP menganjurkan untuk menganggap tindakan-tindakan yang belum memiliki bukti penelitian yang kuat sebagai tindakan yang tidak efektif

Definisi

Jadi apa itu EBP? EBP merupakan integrasi dari


  • Bukti penelitian ilmiah terbaik yang ada
  • Pengalaman klinis
  • Nilai dan keyakinan pasien
untuk mendasari layanan kesehatan terhadap pasien.

EBP harus memfasilitasi pengambilan keputusan bersama antara fisioterapis, pasien, keluarga pasien, dan masyarakat.

Apa saja yang termasuk sebagai bukti ilmiah?

Bukti ilmiah yang digunakan dalam pengambilan keputusan berasal dari berbagai sumber. Buku teks dan pelatihan yang bersifat continuing professional development (CPD)  merupakan cara tradisioanl untuk tetap update dengan perkembangan keilmuan fisioterapi, namun, seringkali keduanya tidak sesuai untuk mengetahui apa yang disampaikan oleh bukti ilmiah terbaik.

Dalam bukti penelitian ilmiah, terdapat hierarki atau tingkatan yang memberikan indikasi seberapa baik metode penelitian yang digunakan untuk menjawab pertanyaan klinis tertentu. Berikut tingkatan penelitian ilmiah berdasarkan metode penelitian yang didesain untuk menjawab seberapa efektif suatu tindakan klinis terhadap kesembuhan pasien.
  • Level I: Bukti ilmiah yang kuat dari paling tidak satu review sistematis (systematic review) berdasarkan sejumlah RCT berkualitas tinggi
  • Level II: Bukti ilmiah yang kuat dari paling tidak satu RCT berkualitas tinggi dengan sampel penelitian yang cukup dan desain klinis yang memadai
  • Level III: Bukti ilmiah dari non-RCT, satu kelompok pre-post, kohort, time series atau case control berpasangan yang memiliki desain penelitian yang baik
  • Level IV: Bukti ilmiah dari penelitian non eksperimen yang didesain dengan baik dari lebih dari satu grup penelitian atau tempat penelitian.
  • Level V: Opini dari ahli di bidangnya, berdasarkan bukti klinis, penelitian deskriptif, atau hasil kesepakatan para ahli terhadap pertanyaan klinis tertentu yang belum memiliki bukti penelitian ilmiah yang kuat.

Sayangnya, tidak semua penelitian memiliki kualitas yang tinggi,  bahkan walau sudah menggunakna metode penelitian terbaik. Sehingga, sangat penting untu memperhatikan kesahihan ilmiah dan relevansi klinis suatu penelitian.

Sumber lain dari bukti ilmiah adalah pengalaman klinis, yang diperoleh seiring waktu dan menggabungkan pengetahuan yang dipelajari dari para ahli dibidangnya dengan pengalaman klnis sendiri. Karena penelitian dengan kualitas yang baik masih belum banyak dilakukan di berbagai bidang fisioterapi - sama halnya dengan berbagai bidang kedokteran -  pengalaman klinis ini bisa jadi bukti ilmiah terbaik yang ada dalam kondisi tertentu.

Fisioterapis mencari informati untuk mendasari setiap keputusan terhadap pasien yang mana hal ini merupakan bentuk lain dari bukti ilmiah,  yang mencakup hasil pemeriksaan dan pengetahuan terhadap keyakinan dan pilihan pasien.

Mengapa EBP itu perlu?

EBP membantu kita melakukan yang terbaik untuk pasien kita. EBP juga membantu dalam perkembangan keilmuan fisioterapi.

Bukan hanya fisioteapis yang ingin melakukan praktek berdasarkan bukti ilmiah. Pasien sendiri ingin mengetahui lebih jauh tentang tindakan yang mereka dapatkan dan pilihan yang tersedia bagi mereka. Tenaga kesehatan lain juga mempertanyakan efektivitas tindakan yang kita lakukan terhadap pasien. Pengguna layanan kesehatan dan pihak penanggung biaya kesehatan kadang meminta tenaga kesehatan untuk mempertanggungjawabkan tindakan yang dilakukan dan mengecek bukti ilmiah yang ada untuk memutuskan tindakan seperti apa yang akan mereka bayar. Hal ini penting bagi fisioterapis sendiri untuk secara aktif terlibat dalam hal tersebut agar bukti ilmiah yang digunakan tepat dan diinterpretasikan dengan benar.

EBP harus dilihat sebagai kesempatan bagi fisioterapi, bukan suatu ancaman. Ketika kita memiliki bukti ilmiah berkualitas tinggi, kita dapat dengan yakin menunjukkan kontribusi penting fisioterapi. Ini akan meningkatkan nilai fisioterapi di hadapan pembuat kebijakan ketika kita mengusulkan untuk melakukan peningkatan pelayanan fisioterapi dan dapat memicu peningkatan peran fisioterapi itu sendiri. Ini juga dapat membantu negara-negara yang masih berjuang untuk mendapatkan kemandirian fisioterapi termasuk Indonesia.

EBP memberikan kita cara yang sah untuk menghentikan tindakan-tindakan yang terbukti tidak efektif. Yang artinya, mengalihkan sumber daya yang kita miliki ke area-area di mana fisioterapi dapat membuat perubahan yang besar.

Bagaiman cara mewujudkan EBP?

Ciptakan lingkungan yang tepat

Komitmen fisioterapis sangat penting, namun begitu juga dengan lingkungan kerja yang dapat merangkul dan mendukung EBP. Dibutuhkan dukungan struktur,  fasilitas dan kesempatan CPD yang tepat. Pengelola klinis dan institusi harus berkomitmen untuk menciptakan layanan kesehatan yang berkualitas.

Lakukan langkah demi langkah

EBP dapat dilihat sebagai pendekatan langkah demi langkah. Langkah pertama adalah mengajukan pertanyaan. Contohnya:

“Apa penanganan paling efektif terhadap nyeri lengan pada pasien stroke?”

“Bagaimana kita harus mengatur layanan fisioterapi untuk anak yang mengalami gangguan perkembangan koordinasi?”

Selanjutnya, mulai mencari bukti ilmiah yang ada. Untuk mengakses bukti ilmiah terbaik seringkali melibatkan pencarian panduan klinis (clinical guidelines) atau ringkasan hasil-hasil penelitian berkualitas, seperti yang dipublikasikan di Clincal Evidence, the Cochrane Library dan PEDro database sebelum merujuk ke penelitian aslinya.

Setelah mendapatkan penelitian yang paling relevan dengan pertanyaan klinis yang kita ajukan, lakukanlah penilaian kritis (ciritical appraisal) terhadap kualitas dan relevansi dari penelitian tersebut. Hal ini berlaku pada ringkasan penelitian maupun penelitian aslinya.

Kemudian kembali ke individu fisioterapi tersebut, berdasarkan pengetahuan dan pengalaman klinisnya, untuk menentukan tindakan apa yang tepat digunakan untuk siapa dan kapan. Hal ini sewajarnya dilakukan melalui diskusi dengan pasien, keluarga pasien dan masyarakat. Selanjutnya penting untuk mengevaluasi dampak dari tindakan yang dilakukan dan melakukan pencarian bukti ilmiah yang lain jika diperlukan.

Keterampilan yang dibutuhkan dalam EBP

Terdapat beberapa keterampilan khusus yang diperlukan untuk mewujudkan EBP. Jika keterampilan ini - beberapa tidak terbatas hanya untuk EBP - tidak diperoleh selaman pendidikan fisioterapi, bisa diperoleh melalui aktivitas belajar seumur hidup. Dalam hidup, kita sering dihadapkan dengan situasi di mana kita harus menyesuaikan terhadap suatu perubahan, dan belajar untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan tersebut merupakan bagian dari EBP.

Mencari bukti ilmiah membutuhkan keterampilan khusus. Bukti ilmiah dapat kita peroleh dengan mudah berkat perkembangan teknologi informasi dan internet. Namun, tidak semua orang memiliki akses terhadap teknologi informasi tersebut, dan tidak semua orang mampu menggunakannya. Oleh karena itu, pelathian sangat diperlukan.

Mampu melakukan penilaian kritis terhadap artikel ilmiah merupakan keterampilan tambahan yang perlu dipelajari oleh fisioterapis. Hanya karena suatu penelitian ilmiah telah diterbitkan di jurnal ternama, tidak menjamin penelitian tersebut memiliki kualitas yang tinggi atau relevansi terhadap pertanyaan klinik kita. Memahami metode yang digunakan dalam penelitian ilmiah dan bagaimana ringkasan penelitian dibuat merupakan baigan dari menjadi konsumer penelitian yang kritis.

Kita juga mungkin harus belajar bagaimana mengevaluasi praktek klinik kita sendiri, salah satunya melalui clinical audit.

Pesan Kunci

  • EBP memberikan kesempatan kepada fisioterapi dan perkembangan layanan fisioterapi.
  • EBP haru menjadi bagian dari aktivitas belajar seumur hidup, mulai dari level pendidikan dasar fisioterapi
  • EBP membutuhkan kombinasi dari seni dan sains

Pengelola klinik perlu menciptakan lingkungan yang memfasilitasi terwujudnya EBP

Tulisan ini merupakan hasil adaptasi dan terjemahan yang bersumber dari:

Bury, Tracy. WCPT Keynotes: Evidence based practice - an overview. London: World Confederation for Physical Therapy

Minggu, 16 Maret 2014

Sejarah Fisioterapi

Bapak Kedokteran, Hipokrates, yang kemudian dilanjutkan oleh Galenus diyakini sebagai orang pertama yang melakukan praktik fisioterapi dengan teknik pijat (massage), teknik manual, dan hidroterapi untuk mengobati pasien pada tahun 460 SM. Setelah adanya pengembangan ortopedi pada abad ke-18, alat-alat mesin seperti gimnasticon dikembangkan untuk terapi encok dan dan keluhan sejenis lainnya melalui pemberian latihan secara teratur pada sendi-sendi yang mengalami gangguan.

Dokumen asli yang pertama ditemukan tentang praktik fisioterapi profesional berasal dari Per Henrik Ling, “Bapak Gimnastik Swedia” , yang mendirikan RCIG (Royal Central Institut of Gimnastic) pada tahun 1813 untuk terapi massage (pijat), manipulasi dan exercise (latihan). Panggilan yang digunakan orang Swedia untuk fisioterapis pada saat itu adalah “sjukgymnast” = “sick-gymnast” orang yang menggunakan gimnastik pada orang sakit. Pada tahun 1887 fisioterapi memperoleh pengakuan secara resmi (official registration) oleh Sweden’s National Board of Health and Welfare.

Setelah itu negara lainnya menyusul. Pada tahun 1894 empat orang perawat di Britania Raya membentuk Chartered Society of Physiotherapy. Lalu disusul pembentukan pendidikan fisioterapi di Universitas Otago New Zealand pada tahun 1913, dan United State Reed College di Portland, Oregon pada tahun 1914 dengan lulusan sebagai “reconstruction aides” (asisten rehab).

Fisioterapi modern berkembang menjelang akhir abad ke-19 karena peristiwa yang berdampak global, yang memberikan kemajuan pesat bagi fisioterapi. Segera setelah ahli bedah ortopedi Amerika mulai menangani anak-anak cacat dan mulai mempekerjakan perempuan yang dilatih dalam edukasi, pijat, dan exercise untuk pemulihan. Penanganan ini diterapkan dan dipromosikan lebih lanjut selama wabah Polio 1916. Selama Perang Dunia Pertama perempuan direkrut untuk bekerja dalam pengembalian fungsi fisik tentara yang terluka, dan bidang fisioterapi mulai dilembagakan. Pada tahun 1918 istilah "Reconstruction Aide" digunakan untuk merujuk kepada individu yang melakukan praktek fisioterapi. Sekolah pertama fisioterapi didirikan di Rumah Sakit Angkatan Darat Walter Reed di Washington, DC, menyusul pecahnya Perang Dunia I.

Penelitian (riset) juga meningkatkan perkembangan fisioterapi. Penelitian pertama tentang fisioterapi dipublikasikan di Amerika Serikat pada bulan Maret 1921 dalam The PT Review. Di tahun yang sama, Mary Mcmillan mendirikan organisasi Physical Therapy Association (sekarang menjadi APTA; American Physical Therapy Association). Pada tahun 1942, Georgia Warm Spring Foundation mendukung perkembangan fisioterapi dengan menganjurkan fisioterapi sebagai terapi untuk penderita polio.

Penanganan fisioterapi yang dilakukan sepanjang dekade 1940-an baru berkisar pada terapi latihan, massage, dan traction. Teknik-teknik manipulasi pada punggung/tulang belakang dan sendi-sendi ekstremitas (alat gerak) mulai dipraktikkan di negara-negara Persemakmuran Inggris pada awal dekade 1950an. Beberapa tahun setelah itu fisioterapis mulai merambah dari hanya sekadar bertugas di rumah sakit ke tempat-tempat lain seperti klinik ortopedi, sekolah-sekolah, universitas, pusat geriatric, pusat rehabilitasi, dan pusat-pusat pengobatan lainnya.

Spesialisasi fisioterapi diawali di Amerika Serikat pada tahun 1974, dengan dibentuknya Bidang Ortopedi APTA yang mengembangkan spesialis ortopedi. Di tahun yang sama, International Federation of Orthopaedic Manipulative Therapy dibentuk. Federasi inilah yang memainkan perananan penting dalam memperkenalkan manual terapi ke seluruh dunia.


Referensi : Wikipedia.org

Sabtu, 15 Maret 2014

Peran Fisioterapi

Fisioterapis adalah profesi kesehatan yang mendiagnosis dan menangani individu di segala usia, mulai dari bayi yang baru lahir hingga lansia, yang memiliki masalah kesehatan atau kondisi yang berhubungan kesehatan lainnya yang membatasi kemampuan bergerak dan melakukan kegiatan fungsional dalam kehidupan sehari-hari.

Fisioterapis melakukan pemeriksaan pada individu dan menyusun rencana penanganan menggunakan teknik intervensi untuk meningkatkan kemampuan gerak, mengurangi rasa sakit, mengembalikan fungsi, dan mencegah kecacatan. Selain itu, fisioterapis bekerja dengan individu untuk mencegah hilangnya mobilitas sebelum terjadi dengan mengembangkan program kesehatan dan kebugaran untuk gaya hidup yang lebih sehat dan lebih aktif.

Fisioterapis memberikan pelayanan bagi masyarakat di berbagai tempat, seperti rumah sakit, praktek swasta, klinik rawat jalan, lembaga kesehatan rumah, sekolah, fasilitas olahraga dan kebugaran, tempat kerja, dan panti jompo. 

Profesi Fisioterapi

Fisioterapi adalah profesi yang dinamis dengan dasar teoritis dan ilmiah yang terus berkembang dan aplikasi klinis yang luas dalam pemulihan, pemeliharaan, dan peningkatan fungsi fisik yang optimal. Untuk lebih dari 750.000 orang setiap hari di Amerika Serikat, fisioterapis:
  • Mendiagnosis dan menangani gangguan fungsi gerak dan meningkatkan kemampuan fisik dan fungsional.   
  • Memulihkan, memelihara, dan meningkatkan tidak hanya fungsi fisik yang optimal tetapi kesehatan, kebugaran dan kualitas hidup yang optimal yang berkaitan dengan gerak dan kesehatan.
  • Mencegah terjadinya, gejala, dan progres kelemahan, keterbatasan fungsional, dan kecacatan yang mungkin timbul dari penyakit, kelainan, kondisi sakit, atau cedera.

Sebagai bagian yang penting dalam sistem pelayanan kesehatan, fisioterapis memegang peran kepemimpinan dalam rehabilitasi; dalam pencegahan, pemeliharaan kesehatan, dan program-program yang meningkatkan kesehatan dan kebugaran; dan dalam organisasi profesi dan masyarakat. Fisioterapis juga memainkan peran penting baik dalam mengembangkan standar untuk praktek fisioterapis dan dalam mengembangkan kebijakan pelayanan kesehatan untuk memastikan ketersediaan, aksesibilitas, dan pelayanan kesehatan yang diberikan secara optimal. Layanan fisioterapi ditanggung oleh asuransi baik swasta maupun negara.

Layanan Fisioterapis memiliki manfaat positif terhadap kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan. Sebagai klinisi, fisioterapis melakukan proses pemeriksaan yang meliputi:
  • Memperoleh riwayat keluhan pasien/klien, melaksanakan kajian sistematis, dan melakukan tes dan langkah-langkah untuk mengidentifikasi masalah potensial yang ada
  • Untuk menetapkan diagnosa, prognosa, dan rencana penanganan, fisioterapis melakukan evaluasi, analisis data pemeriksaan dan menentukan apakah masalah yang ditangani adalah dalam lingkup praktik fisioterapi atau tidak.

Berdasarkan penilaiannya mengenai diagnosa dan prognosa dan berdasarkan tujuan pasien/klien, fisioterapis:
  • Memberikan intervensi (interaksi dan prosedur yang digunakan dalam menagani dan mengarahkan pasien/klien)
  • Melakukan pemeriksaan ulang
  • Memodifikasi intervensi jika diperlukan untuk mencapai tujuan dan hasil yang diharapkan, 
  • Mengembangkan dan melaksanakan rencana pemberhentian tindakan.        

Sumber: APTA